Bakti Informatika ITB: IT untuk Si Miskin December 21, 2007
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Kuliah, Opini, Teknologi Informasi.Tags: bakti informatika ITB IT miskin kontribusi pendidikan
20 comments
“Anak-anak, yang paling penting dalam programming adalah jam terbang.”
Dr. Ir. Inggriani Liem, MM., Dosen senior IF ITB
“Aku tuh mulai programming dari kelas 3 SMP.”
Ali Akbar, mahasiswa IF ITB 2003 termuda dan lulus tercepat predikat cum laude
Bayangkan ada seorang anak kelas 3 SMP mengenal bahasa Basic. Setahun kemudian ia menyentuh C dan C++. Kelas 2 SMA ia mulai belajar ilmu software engineering. Terakhir, pada kelas 3 SMA setelah lumayan makan asam garam programming, ia memfokuskan skillnya pada image processing. Menurut anda apakah anak itu bisa mandiri selepas SMA? Apakah anda ingin memiliki anak seperti itu? Dan…
Apakah itu mungkin?
Mungkin saja apabila anak itu adalah seorang anak superjenius, berasal dari strata menengah ke atas, dan salah satu keluarganya adalah IT expert. Kira-kira itu yang terbayang dalam pikiran anda. Lalu bagaimana dengan anak-anak biasa, ekonominya biasa, dan tidak punya akses IT? Rasanya mustahil. Apalagi anak-anak putus sekolah seperti pengamen jalanan cilik.
Memang benar, anak-anak golongan terakhir mustahil melakukan itu. Namun pernahkah anda berpikir, mengapa mereka mustahil melakukan hal itu? Apa karena mereka tidak cerdas? Rasanya tidak. Contohnya, IF telah menunjukkan bahwa mereka mampu menempa anak SMA yang awalnya buta IT, sehingga 4 tahun kemudian memiliki skill yang mampu membuat mereka mampu mencari nafkah. Pernyataan Ali Akbar dan Bu Inge pun diamini oleh sebagian besar kalangan IF sendiri.
Apa yang menyebabkan orang miskin tetap miskin, orang bodoh tetap bodoh, dan negara kita yang tertinggal tetap tertinggal, adalah karena tidak memiliki kesempatan. Seandainya mereka memiliki kesempatan yang sama seperti Ali Akbar, beberapa di antara mereka mungkin bisa melewati anda di umur yang sama. Seandainya mereka memiliki kesempatan, mereka mungkin dapat meninggalkan kemiskinan mereka. India mampu bangkit dari negeri kumuh dan miskin menjadi pengekspor ekspatriat terbesar di dunia karena IT.
Lalu siapa yang akan memberi kesempatan pada orang miskin untuk belajar IT?
Keterlaluan rasanya jika civitas Informatika ITB masih melirik ke kanan-kiri mencari siapa yang melakukannya. IF ITB-lah yang memiliki tanggung jawab terbesar! Mereka dibimbing dosen-dosen terbaik. Akses informasi tanpa batas. Fasilitas berlimpah. Dan itu ditanggung uang negara. Maka dari itu, tanggung jawab untuk memberikan IT kepada si miskin tidak terletak pada bahu jurusan Teknik Informatika universitas XX yang bisa lulus tanpa kuliah…!
Dedikasi IF-ITB pada pendidikan IT massal untuk rakyat miskin dapat mengubah wajah kota Bandung. Dan dedikasi universitas lain pada hal ini akan mencerahkan masa depan anak-anak Indonesia.
Manfaat Mendidik IT Massal
Manfaat dari mendidik IT secara massal adalah:
- Membantu mahasiswa IF ITB mencapai kebahagiaan hidup. Telah banyak tokoh sukses terkenal yang mewasiatkan bahwa kebahagiaan hidup tidak terletak pada keberlimpahan harta, jabatan yang tinggi, namun sederhana: Dicintai sesama, didoakan sesama, karena bermanfaat bagi sesama.
- Mencetak tunas-tunas IT expert yang siap diakselerasi di jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, akselerasi tunas-tunas ini sangat mungkin meninggalkan lulusan SPMB ketika bersama memasuki IF!
- Langkah strategis mengurangi kemiskinan dan pengangguran di kota Bandung.
- Sarana melatih kemampuan presentasi bagi mahasiswa IF ITB. Karena motivasi belajar anak-anak tersebut akan berbanding lurus dengan kesungguhan mahasiswa untuk mengajar mereka.
Tentu saja masih ada keuntungan lain seperti aspek ekonomis. Namun tidak perlu saya bahas agar mahasiswa IF ITB tidak mengotori kemurnian niat untuk berkontribusi bagi masyarakat ini.
Rancangan Implementasi
Orang-orang yang bernuansa negatif akan berkata, “Ini mungkin, tapi sulit”. Sementara orang bernuansa positif akan berkata, “Ini sulit, tapi mungkin”. Usul ini mungkin direalisasikan. Ada berbagai cara agar niat ini dapat diimplementasikan secara efektif. Salah satu usul yang saya usulkan, program ini dimasukkan ke dalam kurikulum 2008 sebagai SKS opsional. Dalam SKS ini, setiap anak IF berkewajiban untuk mengajarkan ilmunya satu kali dalam seminggu. Sementara penilaian SKS ini diukur dari sejauh mana anak yang diajar mampu memecahkan persoalan-persoalan IT. Tentu saja, aspek yang ditonjolkan dari usul di atas bukan SKS-nya, tapi aspek social responsibility-nya. Bahkan kalau perlu SKS ini dijadikan trademark IF ITB, untuk membuktikan bahwa alumninya selain memiliki skill juga memiliki kepekaan hati, kemampuan presentasi yang baik, serta kemauan yang keras.
Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan lain yang harus dijawab ketika program ini didesain, seperti:
- Siapa yang akan diajar?
- Apa yang akan diajarkan?
- Bagaimana agar pendidikannya kontinu?
- Bagaimana menilai kinerja pengajar?
- Bagaimana menilai kinerja yang diajar?
- Bagaimana menjaga motivasi pengajar?
- Dimana tempatnya?
- Siapa penyedia fasilitasnya?
- Dll.
Terakhir, tujuan usul ini bukanlah citra IF sendiri. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai sejauh mana keseriusan dan kepedulian IF ITB terhadap masyarakat Bandung. Usul ini berangkat dari kesadaran, bahwa di tangan civitas IF-ITB-lah nasib bangsa ini berada. Kita lah yang memiliki kekuatan untuk mencetak Ali Akbar-Ali Akbar baru. Dan yang pasti, ketika seluruh civitas dan alumni IF ITB memiliki ketulusan dan ketahanan berjuang untuk melakukan hal ini, Tuhan akan membukakan jalan seluas-luasnya.
Ditunggu masukannya, sahabat dan rekan IF semua…
Agustus 2007 September 7, 2007
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Diary, Umum.10 comments
Kadang-kadang memang ada waktunya untuk merenungi yang telah terjadi, terutama jika hal itu spesial. Berhubung Agustus lalu cukup ’spesial’, maka saya renungi saja di blog ini. Ya, berhubung banyak kejadian di bulan Agustus, maka bulan itu jadi spesial buat saya. Spesialnya dimana sih?
Memilih Pemimpin = Memilih Pasangan August 29, 2007
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Bangsa dan Negara, Islam, Opini.7 comments
Rasulullah berpesan agar kita memilih pasangan berdasarkan empat kriteria:
- Penampilan
- Keturunan
- Harta
- Agama
Ehm, siapa yang tidak mau berjodoh dengan orang yang memiliki keempat hal tersebut bersamaan. Beruntunglah ia yang bisa bersanding dengan orang seperti itu. Sayang, karena orang seperti itu sangatlah *langka*, maka dalam menentukan pasangan Rasul berpesan agar kita memprioritaskan pemahaman agama calon pasangan kita. Jadi, agar hidup kita bahagia dunia akhirat, pilihlah yang agamanya baik. Hal lain bisa menyusul, kira-kira begitu.
Yang menarik, aturan ternyata yang sama bisa diterapkan dalam memilih pemimpin lho! Ya kan? Siapa yang tidak mau pemimpin yang makmur, agamanya baik, dari keturunan yang baik, dan berpenampilan baik? Tapi karena pemimpin seperti itu langkanya minta ampun, maka kita harus memprioritaskan pilihan kita pada pemimpin yang agamanya baik. Sayang, meski banyak orang yang menyadari 4 kriteria di atas dalam memilih pasangan hidupnya, ternyata masih sedikit di Indonesia ini yang menerapkan kriteria yang sama dalam memilih pemimpin. Masih banyak orang / partai yang memilih pemimpin karena uangnya, “Loe berani setor berapa ke gue?” Kalau begitu, mana bisa berubah keadaan kita. Budaya preman akan melahirkan preman baru. Atau karena bapaknya dan ibunya pemimpin besar, tanpa melihat kualitas dirinya. Padahal kalau cuma numpang nama, anak kecil juga bisa.
Hal ini sangat penting, karena scope seorang pemimpin jauh lebih besar daripada scope seorang pasangan hidup. Pasangan hidup yang kita pilih mungkin hanya akan menentukan hidup kita sendiri. Tapi pemimpin yang kita pilih, akan menentukan hidup, kemakmuran, atau kemelaratan orang lain pula! Dan pemimpin yang memiliki probabilitas terbesar dalam membawa kebahagian rakyatnya adalah pemimpin yang memiliki pemahaman agama yang baik!
So, ayo kita prioritaskan pemahaman agama dalam memilih setiap pemimpin kita, baik pimpinan di kampus, kantor, gubernur, sampai…. presiden. Dan jangan lupa, berikan juga pendidikan ini pada masyarakat, agar mereka menjadi lebih cerdas dalam memilih pemimpin.
Memilih pemimpin = Memilih pasangan
Sederhana kan?
Apakah Kita Benar-benar Telah Merdeka? August 20, 2007
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Bangsa dan Negara, Puisi.add a comment
Apa kita telah mandiri dan berdikari?
Membangun dengan utang
Memakai produk asing
Mengekor nafsu negara adidaya
Apa kita menghargai pejuang kemerdekaan?
Menguburnya tanpa menziarahi
Menelantarkannya di usia senja
Memberinya janji kosong
Apa kita sudah bebas?
Berpendapat namun dikekang
Beribadah dituduh teroris
Apa kita sudah aman?
Mengantuk sesaat dicopet
Melalaikan sebentar dicuri
Membawa uang agak banyak disikat
Cekcok sedikit dibunuh
Mengamanahi malah dikorupsi
Apa kita sudah bahagia?
Menyusui dengan air tajin
Menyusuri dengan sandal butut
Mandi dengan air kali
Makan kadang tidak dalam sehari
Mendidik tanpa budi pekerti
Apa kita sekarang sudah merdeka?
Apa beberapa tahun lagi kita masih tetap merdeka?
Ataukah pulau-pulau sedikit demi sedikit akan sirna
Karena gerakan separatis yang kian menggila
Atau dijual membabi buta
Karena tak bisa bayar utang pada mereka
(Bandung, 20 Agustus, sebelum Pra Sidang)
Kunjungan Muhammad Yunus: Kado HUT RI? August 15, 2007
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Artikel, Bangsa dan Negara.6 comments
Kedatangan tokoh sebesar Muhammad Yunus ke Indonesia baru-baru ini merupakan kesempatan yang sangat langka bagi bangsa ini. M. Yunus tiba pada bulan Agustus, bulan yang merupakan ulang tahun bangsa Indonesia. Penerima Nobel Perdamaian 2006 yang terkenal dengan Grameen Bank-nya ini datang untuk berkunjung ke sejumlah tempat di Indonesia, termasuk Istana Negara, Unpad, dan UGM. Ia berkeliling Indonesia untuk berbagi visi dan pengalamannya dalam menghapuskan kemiskinan di negara-negara berkembang kepada berbagai pihak. Karena kedatangannya berdekatan dengan dirgahayu Republik Indonesia, seharusnya hal ini seharusnya dapat menjadi momentum bagi segenap elemen bangsa Indonesia untuk bersama-sama memulai babak bary dalam perang menghapus kemiskinan. Diharapkan, dengan mengimplementasikan prinsip-prinisip Muhammad Yunus yang telah teruji, bangsa Indonesia akhirnya dapat memenangkan perang melawan kemiskinan. Jika hal itu terjadi, tidak berlebihan bila dikatakan kunjungan Muhammad Yunus adalah kado yang sangat berharga bagi dirgahayu RI. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan saran dalam mengimplementasikan ide-ide Muhammad Yunus dalam konteks Indonesia.
(more…)
Menjadikan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Industri Strategis Penunjang Pertahanan July 23, 2007
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Pertahanan, Teknologi Informasi.20 comments
Kesepakatan Presiden SBY dan B.J. Habibie baru-baru ini untuk merevitalisasi industri strategis Indonesia membawa harapan cerah bagi masa depan bangsa Indonesia. Pertemuan ini seharusnya dapat menjadi kesempatan besar untuk memasukkan sebuah bidang penting ke dalam industri strategis, yakni teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bidang ini telah menjadi penyangga kehidupan umat manusia di zaman modern. Sadar atau tidak sadar, kehidupan ini telah menjadi semakin praktis berkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bahkan TIK adalah jantung yang mensuplai energi bagi jalannya industri seperti perbankan, telekomunikasi, dan manufaktur. Melihat fenomena tersebut, tidak mengherankan jika banyak negara menjadikan TIK sebagai industri unggulan dalam rencana pembangunan mereka. Bahkan negara-negara yang bangkit di awal abad 21 seperti India dan China memiliki portfolio industri TIK yang impresif. Negara-negara tersebut sadar, bahwa TIK dapat melesatkan pertumbuhan ekonomi mereka. TIK adalah industri masa depan, sehingga penguasaan TIK merupakan langkah strategis untuk menjadi negara yang berpengaruh di masa depan.
Lagi, Korban Tewas di-IPDN-kan July 23, 2007
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Opini, Umum.9 comments
“Itu yang tidur, tolong bangun. Kalau tidak, biar di-IPDN-kan saja.”
Kontan saja kami tertawa. Celetukan Pak Musholli saat Kajian Islam Kontemporer itu begitu cerdas. Aktivitas pemukulan tanpa ampun, penghardikan, pengeroyokan dan berbagai kekerasan lainnya beliau rangkum dengan satu kata sekaligus: IPDN. Sebegitu parahkah moral sebagian besar civitas IPDN, sehingga namanya layak mendapatkan peyorasi begitu rupa?
Ternyata ya. Bahkan harus.
Pagi ini (23/7), dengan bersimbah darah seorang tukang ojek bernama Wendi dimakamkan karena dikeroyok praja IPDN (Detik.com). Parahnya, tidak satupun pihak IPDN hadir pada pemakaman Wendi. Tentu saja, ini menambah daftar hitam korban kekerasan yang terjadi di tempat terkutuk itu. Bahkan rektor baru pun setali tiga uang dengan rektor lama, menutup-nutupi kasus ini.
Well, IPDN memang sudah busuk sampai ke akar. Tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari institut kematian ini. Menurut Dr. Inu Kencana, kekerasan, narkoba, seks bebas, pungli, dan korupsi di dalamnya bersifat struktural dan sudah membudaya. Oleh karena itu, perbaikan IPDN tidak bisa dilakukan dengan tambal sulam rektor. Institut ini memang harus dibekukan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Seluruh praja harus pulang ke daerahnya masing-masing. Seluruh orang yang bekerja di sana diberhentikan. Kemudian dibuat institut dengan SDM dan sistem baru. Kalau perlu nama IPDN diganti. Barulah ada harapan ke arah yang lebih baik.
Kembali ke topik, jadi bagaimana? Mulai saat ini mari kita gunakan “meng-IPDN-kan”, “peng-IPDN-an”, dan “di-IPDN-kan”. Karena memang tidak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan hal terkutuk itu. Setuju?
Paradoxical Commandments July 16, 2007
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Pengembangan Diri, Puisi.3 comments
People are often unreasonable, illogical, and self-centered;
Forgive them anyway
If you’re kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives;
Be kind anyway
If you’re successful, you will win some false friends and true enemies;
Succeed anyway
If you’re honest and frank, people may cheat you;
Be honest and frank anyway
What you spent years building, someone could destroy overnight;
Build anyway
If you find serenity and happiness, they may be jealous;
Be happy anyway
The good you do today, people will often forget tomorrow;
Do good anyway
Give the world the best you have, and it may never be enough;
Give the world the best you’ve got anyway
Ini adalah puisi yang ditulis Dr. Kent M. Keith pada tahun 1968, digantungkan oleh Mother Teresa di rumah penampungan anak terlantarnya di Calcuta, India, dan diberitahukan kepada saya oleh Dr. Arief Munandar pada Training Pengembangan Diri PPSDMS hari Sabtu (14/7).
Menjelaskan Enam Keanehan Uqi July 13, 2007
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Iseng, Umum.9 comments
Yeah… I’m tagged… by him. There’s no other choices than join this bovi game… Inilah 6 keanehan Uqi… tada!
1. Hardware & Notebook-Fetish
Entah kenapa beginilah saya… setiap hari kerjaannya liatin hardware… ngecengin… semua situs dikunjungin… Anandtech, Tomshardware, XSReviews, TrustedReviews, NotebookReviews, Madshrimps, VRZone… Terus akhir-akhirnya jadi pengen beli… “Mana dompet? Mana dompet?” Kayaknya daripada programmer, saya lebih cocok jadi engkoh-engkoh penjual kompie deh. Serius… Coba aja tanya saya, berapa Mhz clock speed stream processor XFX 8600 GT? Berapa jumlah hard drive bay Enermax Chakra? Berapa Ampere rail Silverstone Decathlon 850W? Apa casing terkecil untuk ATX? Pasti bisa.
2. Coffee-Freak
Ketularan seseorang yang bernama Mbak Puspa pas KP tahun lalu. Akhirnya jadi suka kopi. Semua kopi dicobain… kopi tubruk, kopi item, kopi jahe, kopi strawberry, kopi sachet, kopi susu dll. Belum pernah ke Starbuck Coffee sih… harganya terlalu ajib… Wal hasil, kulit saya jadi sewarna sama kopi… dan akhirnya pilihan terakhir saya jatuh ke Nescafe Ice dan Good Day Carribean…
3. Dream Come True
Pemimpi abis, menyandarkan cita-cita pada sesuatu yang nggak rasional. Masak waktu SMA jadi semangat belajar selama setahun penuh gara-gara pengen bikin robot-robot yang keren ini:
Tapi lumayanlah mimpinya… mendongkrak ranking dari 9 ke 1… trus bisa bawa ke Informatika ITB…
4. Nama Cewek Ingat Terus, Nama Cowok Lupa Terus
Yah begitulah… namanya juga laki-laki
5. Good Smelling
Saya kadang-kadang mengidentifikasi orang (terutama cowok) dari bau badannya. Kalau bau badannya khas, dari jarak 0,5 meter bisa ketahuan lah. Saya juga tidak men-judge makanan / minuman dari penampilan / rasa, melainkan bau. Makanya jangan heran kalau ketemu benda aneh, yang pertama kali saya lakukan adalah mengendusnya…
6. Pelupa
Yeah, pelupa akut. Kadang buat saya, hidup ini hanya untuk mencari / mengambil barang yang kelupaan. Kenapa yah??? Bingung.
OK, sekarang orang yang di-tag. Ini dia:
Oh ya! Saya juga meminta orang ini menjelaskan 6 ketidakanehan dari dirinya! Mengapa? Karena semenjak bertemu dari tingkat 1, orang ini dari ubun-ubun sampai jempol kaki isinya keanehan. Huhuhu….

