Tiba di Jepang April 2, 2008
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Diary, Jalan-Jalan, Kuliah.Tags: jepang monbusho bandara
trackback
Sesampainya di bandara Narita di Tokyo, kami bergegas untuk menjalani prosedur imigrasi, seperti pemeriksaan paspor dan registrasi. Eh, memang dunia sempit, setelah itu saya bertemu dengan Sandy IF01. Saya diberiknya onigiri. Onigiri itu nasi kepal yang dibungkus dengan suatu daun berwarna hijau – serupa lemper. Ketika sedang makan, saya melihat Dewi-sensei sedang memakan daun hijau tersebut.
`Lah Dewi-sensei, ngapain daun pisangnya dimakan??!` kata saya.
`Dasar,` katanya. `Ini bukan daun pisang, tapi rumput laut…`
`…`
Maka setelah menyadari bahwa di-Jepang-tak-ada-daun-pisang, kami membeli tiket bus Airport Limousine yang diperlukan untuk berpindah ke bandara Haneda (yang berada di Tokyo juga). Sambil di sana, ternyata saya juga tidak sengaja bertemu Rasyid Aqmar, alumni SMU 1 Bogor angkatan 2000. Memang benar istilah `Smunsa Bogor Everywhere`, nggak di Bandung, di Jogja, atau di Tokyo… adaa aja..
Sesudah menunggu semua anggota rombongan selesai membeli tiket, kami pamit dengan anggota Monbusho lain yang akan belajar di Tokyo. Setelah itu, kami keluar gedung untuk menuju halte bus Airport Limousine. Begitu keluar dari gedung, brrr… dingin sekali. Saya melihat thermometer, ternyata 12 derajat Celcius. Ternyata di dalam bandara lebih hangat…
Rencananya, dari Haneda kami akan naik pesawat menuju bandara Itami, Osaka. Pohon-pohon sakura terlihat begitu merekah sepanjang perjalanan kami. Bagi yang pertama kali datang ke Jepang, mereka akan terkagum-kagum melihat betapa bersihnya jalan dan lingkungan sekitarnya. Bus memasuki jalan tol. Terlihat Tokyo Bay, dan juga Tokyo Disneyland. Saya berharap mudah-mudahan bisa datang ke sana waktu liburan.
Setelah sekitar 40 menit, akhirnya bus tiba di bandara Haneda. Bandara ini merupakan bandara yang lebih kecil daripada bandara Internasional Narita, karena hanya melayani penerbangan lokal se-Jepang. Setibanya di sana, kami segera turun dari bus. Oh ya, meskipun jarak tempuh bus hanya sejauh Cengkareng-Halim Perdanakusumah, harga tiketnya mahal: 3000 yen (Rp 270.000). Benar-benar memecahkan rekor tiket bus termahal yang pernah saya beli, hehehe…
Kami segera menelepon beberapa anggota keluarga untuk lapor bahwa kami tiba. Setelah itu, kami sedikit jalan-jalan, dan shopping, dan lalu menaiki pesawat terakhir. Pesawat yang ini lebih padat daripada yang dari Jakarta. Di setiap kursi ada LCD yang menginformasikan lokasi pesawat di atas peta, ketinggian, serta kecepatan pesawat. Saya sendiri mendapat kursi yang berada di samping jendela.
Semakin tinggi pesawat mengudara, semakin kecil pemandangan di darat terlihat. Kereta dan mobil-mobil yang sedang berjalan jadi terlihat seperti mainan. Kapal tanker yang berada di laut menjadi sekecil semut. Dari atas, saya bisa melihat betapa padatnya kota-kota di Jepang, namun juga begitu lowongnya daerah pegunungan di Jepang.
Bertemu Teman Satu Lab
Setelah terbang sekitar 1 jam, akhirnya pesawat mendarat juga. Sesampainya di bandara, teman-teman Indonesia dari PPI Osaka-Nara yang datang menjemput sudah menunggu di pintu keluar. Saya juga melihat sahabat saya, Euis-san, melambaikan tangan sambil memanggil nama saya. Ketika sedang menuju ke sana, eh tiba-tiba ada orang Jepang yang memegang karton bertuliskan `Mr. Uqi, from Hagihara Lab`. Wah, itu orang dari lab yang akan saya tempati! Saya segera beralih arah ke mereka, dan berkata `watashi wa Uqi desu! (saya Uqi)!`. Eh tiba-tiba saya tas saya langsung diambil mereka, dan langsung keluar dari bandara. Wah, saya belum ketemu sama teman-teman PPI! Ya sudah, saya cuma berikan sinyal bahwa saya tidak ikut rombongan PPI.
Di luar tidak sedingin di Tokyo (tapi tetap saja dingin). Saya segera berkenalan dengan rekan saya se-lab tersebut. Mereka adalah: Ino-sensei (associate professor), Okuyama-san (program Master tahun pertama, selanjutnya disingkat M1), dan Munekawa-san yang juga M1. Setelah berkenalan, saya, Okuyama-san, dan Munekawa-san menunggu Ino-sensei yang pergi mengambil mobil (iya saya dijemput pake mobil). Sambil menunggu, Munekawa-san memulai pembicaraan, `nihon wa dou desu ka? Samui desu ka? (gimana Jepang? Dingin?)` saya menjawab `sou nee,,, eakon o yukkuri chiisaku dekitekurenai no? (iya nih, ac-nya bisa dikecilin dikit ga?) lalu mereka berdua ketawa kecil. Garing kali yah.
Setelah beberapa saat, Ino-sensei akhirnya kembali. Wohoo, mobilnya Alfa Romeo bo. Barang bawaan saya segera ditaruh ke bagasi. Setelah itu, kami berangkat. Sepanjang jalan saya masih terkagum-kagum. Entah kenapa, bunga-bunga yang mekar berwarna-warni di musim semi begitu rapi menyatu dengan tiang-tiang rel monorail raksasa yang menjulang, suasana berkendara yang tertib, serta bersihnya kota ini. `Orang muslim itu kalah sama Jepang dalam soal kebersihan`, begitu yang sering dikatakan di Indonesia.
Welcome to Osaka University
Setelah kurang lebih 40 menit di jalan, kami memasuki gerbang Osaka University, kampus Suita. Osaka University memiliki 3 kampus yang berada di kecamatan berbeda, yakni kampus Suita, Toyonaka, dan Minoo. Kampusnya lengang, yang kemudian saya baru tahu bahwa ini sedang liburan.
Kami segera mencari gedung yang bernama IC Hall. Setelah ketemu, Ino-sensei segera melaporkan kedatangan saya ke sana. Berikutnya, kami ke tempat bernama Co-Op. Di sana, saya menandatangani kontrak dormitory (sambil menyerahkan 100,000 yen, huhuhu…). Setelah itu, saya menerima kupon sepeda bekas gratis. Dan terakhir, kami kembali ke mobil, untuk mencari Onohara Haitsu, dormitory saya.

lanjut dong ceritanya lanjut dongg
selamat datang di jepang … walah .. dah lama banget ya ….
wah…lucu banget yang bagian daun pisang-nya
untungnya di sini saya udah pernah ketemu dengan lembaran daun pisang (eh salah… lembaran rumput laut)… hehe.
Smunsa Bogor Everywhere>>
Bangeuuut…
di SMUNSA kita diajarin untuk ‘terbang’ soalnya kang.. nama angkatan aku aja PILOT. gak heran kan??