Pertama Kali Naik Pesawat April 2, 2008
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Jalan-Jalan, Kuliah.Tags: pesawat jal monbukagakusho jepang kuliah
trackback
Bismillahilladzi sakkhara lanaa haadza wa maa kunna lahu muqriniin.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di pesawat, doa di atas adalah hal yang pertama kali saya ucapkan. Diiringi doa segenap keluarga dan teman-teman, akhirnya saya diamanahi untuk belajar di Jepang via beasiswa Monbukagakusho. Bagi saya yang ndeso-dan-relatif-tidak-berprestasi ini, ini adalah kali pertama naik pesawat, sekaligus kali pertama ke luar negeri. Bagaimana tidak, dalam 21 tahun hidup saya selalu tinggal di Jawa Barat. Seluruh keluarga di Jawa Barat. Sekolah dari TK sampai S1 di Jawa Barat. Mana tidak pernah lolos lomba sampai taraf internasional (nasional aja enggak).
Pesawat yang saya naiki malam itu adalah JAL, nomor penerbangan 716, kelas Ekonomi. Harga yang tertulis di tiket hampir $2000, jurusan Cengkareng-Narita-Itami. Pertama kali saya lihat, “wah kelas ekonomi macam apa ini harganya sampai 20 juta?”. Akan tetapi, ternyata definisi “pesawat kelas ekonomi” a la Jepang berbeda dengan “pesawat kelas ekonomi” di Indonesia. Kalau pesawat kelas ekonomi-nya Jepang, anda akan mendapatkan *lebih* dari semua yang anda butuhkan. Kalau kelas ekonomi Indonesia, mungkin anda tidak anda tidak akan mendapatkan semua yang anda butuhkan (termasuk keselamatan).
Sesudah sampai di bandara Narita, saya masih deg-degan pada take-off dan landing-nya pesawat. Semua persiapan harus dilakukan sesempurna mungkin. Mulai dari mengencangkan ikat pinggang, mematikan alat elektronis, merapikan meja makan, dan sebagainya. Sesudah hal tersebut disiapkan, pesawat akan bergoyang-goyang, menderu-deru kencang, menekan badan, bahkan terkadang membuat mual. Hal tersebut mengingatkan saya pada kuliah.
Kuliah = Penerbangan
Kuliah, seperti halnya sebuah penerbangan, memiliki saat “take off” dan “landing“-nya sendiri. Saat take-off kuliah adalah saat dimana kita mulai masuk sekolah. Segala sesuatu harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Mulai dari pendaftaran, uang yang harus disediakan, dan ujian masuk. Persiapan ini tidak jarang memakan waktu yang lama, bahkan bisa bertahun-tahun. Apalagi yang belajar di luar negeri, harus ditambah belajar bahasa pula. Kalau bahasanya Melayu sih masih mending. Nah kalau bahasanya Jepang yang hurufnya ribuan, atau bahasa Arab yang satu hal bisa memiliki sampai 50 kata, atau bahasa Yunani yang hurufnya seperti rumus matematika semua? Nah lho.
Saat “landing” dari sekolah adalah kelulusan. Seperti halnya “take off”, persiapan landing pun harus sempurna. Pastikan persyaratan mata kuliah terpenuhi, kerjakan skripsi/tesis, revisi berkali-kali, sampai pengurusan sidang.
Kadang kita terguncang saat take-off maupun landing kuliah itu. Atau tertekan, bahkan menjadi mual. Kedua hal tersebut memang menyeramkan. Namun di antara take-off dan landing, kita terbang melihat awan dan lautan. Begitu halnya sewaktu kita kuliah, kita bisa terbang dan melihat samudera pengetahuan yang teramat luas. Kadang di antara samudera pengetahuan itu ada satu tempat yang begitu cantik, yang membuat kita ingin mendarat di sana. Tempat itulah spesialisasi kita.

selamat ya uki, sekarang dah resmi jadi warga internasional. semoga cepat lulus juga.
janga2 belum pernah naik kereta juga ? hi..hi…:)
Hayooo semangat lakukan yg terbaik
YOOOOOOOW…..
wah… paling suka yang ini :
“Begitu halnya sewaktu kita kuliah, kita bisa terbang dan melihat samudera pengetahuan yang teramat luas. Kadang di antara samudera pengetahuan itu ada satu tempat yang begitu cantik, yang membuat kita ingin mendarat di sana. Tempat itulah spesialisasi kita.”
(^_^)
@ jampasir: Amiin, makasih ya doanya Kim…
@ Landy: Roger that
@ Ooze: YOOOOW juga… gimana kabarnya di Tokyo?
“Bagi saya yang ndeso-dan-relatif-tidak-berprestasi ini, ini..”
ah,bapak yang satu ini merendah saja,begitu ampe sini langsung masuk kelas advance nihonggo :p