jump to navigation

Barang Bekas April 2, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Diary.
Tags: , ,
trackback

Tinggallah saya sendirian di kamar, kebingungan mau apa di tengah suhu yang semakin menurun. Untuk sekedar menggerakkan badan, akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan, sambil mencari lokasi toko-toko terdekat dan telepon umum internasional. Saya berhasil menemukan 3 lokasi toko dan 2 lokasi telepon umum. Tidak lupa, saya janjian dengan Euis-san supaya bertemu di dorm saya.

Sepulang dari sana, saya melihat Euis-san dan seorang temannya sudah berada di dorm saya, Onohara Haitsu. Saya segera berkenalan dengan temannya Euis-san, yang bernama mas Abdi. Tentu saja, mereka adalah teman Indonesia pertama saya di Jepang. Tujuan mereka datang adalah untuk menentukan barang apa saja yang saya perlukan.

Untuk itu, kami bertiga ke kamar saya. Setelah melihat kamar saya yang kosong melompong, mereka berdua sepertinya mengerti barang-barang yang saya butuhkan. Barang-barang tersebut ada di rumah Euis-san dan temannya, Mbak Dian. Karena Mbak Dian belum pulang dari lab, kami pergi ke rumah Euis-san terlebih dahulu. Di sini, saya diberi satu lapis futon dan rice-cooker. Kemudian dari tetangga sebelah Euis san, pak Herman, saya diberikan gorden, pemanas ruangan, dan penghangat kasur. Baru setelah itu kami ke rumah mbak Dian. Dari beliau, saya menerima hanger baju, peralatan masak, water heater, microwave, bantal, 2 lapis futon, dan selimut. Meski semuanya bekas… tapi tidak apa-apa, yang penting saya bisa survive untuk malam ini. Maka sepulang dari rumah teman-teman baru itu, saya segera set-up kamar saya dan… tidur nyenyak, he2…

Barang Bekas

Mengapa di Jepang banyak barang bekas (yang masih bagus) dibuang? Jepang adalah negara dengan peringkat konsumerisme terbesar di dunia. Karena inovasi berjalan tiada henti, maka barang-barang dengan teknologi baru (terutama elektronik dan mobil) cepat keluar. Masyarakat Jepang tidak terbiasa untuk memakai barang lama. Mereka terbiasa untuk mengikuti teknologi terbaru. Akibatnya, meski umur barang-barang baru 3 tahun, tidak jarang sudah dibuang. Selain itu, masyarakat Jepang punya kepercayaan bahwa menggunakan barang bekas orang lain akan membawa sial. Dan faktor terakhir adalah masalah space (ruangan). Rumah di Jepang sempit-sempit, contohnya tidak jarang kamar mandi hanya berukuran 1,5 m x 1,5 m. Oleh karena itu, barang yang bekas sering dibuang.

Comments»

1. Acie - November 13, 2008

Waduh uenake klo barang2 msh bgs2,tak segan2 kubeli/ambil,he3x.