Dulu Uni Eropa, Sekarang Amerika Latin. Kapan Islam? January 6, 2008
Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Bangsa dan Negara, Opini.Tags: bank selatan venezuela argentina ekuador bancosur persa
trackback
Beberapa waktu yang lalu, sebuah berita yang mencengangkan tertulis di Kompas. Negara-negara di Kawasan Amerika Latin bersepakat untuk membentuk Bank Selatan (Bancosur). Beberapa negara-negara yang tergabung di dalamnya yakni Venezuela, Argentina dan Ekuador. Selain membentuk Bank Selatan, mereka juga bersepakat keluar dari IMF dan Bank Dunia.
Mengapa negara-negara tersebut membentuk bank ini dan keluar dari keanggotaan IMF serta Bank Dunia? Kebijakan IMF-lah yang menjadi pemicunya. Kedua badan tersebut selalu memiliki syarat yang merugikan untuk membantu perekonomian negara miskin. Yang pertama, BUMN biasanya harus diprivatisasi. Yang kedua, biasanya subsidi untuk orang miskin harus dihapuskan.
Di Indonesia, kedua hal tersebut sudah terjadi. Masalah privatisasi, kita lihat kasus Indosat. Menurut Marwan Batubara dalam bukunya (saya lupa), privatisasi Indosat adalah keinginan IMF. Hasilnya? Keuntungan Indosat bertriliun-triliun, yang tadinya masuk ke kas pemerintah, sekarang masuk ke kas asing.
Masalah penghapusan subsidi, kita telah lihat juga di negeri ini. Mulai dari BBM. Kemudian listrik. Akibatnya, harga barang-barang naik. Menurut mantan Komisaris Bank Permata Icsanudin Noorsy, kenaikan harga BBM dan listrik sebetulnya bukan karena harga minyak dunia. Tapi juga pesanan IMF.
Karena dua syarat merugikan itulah, negara-negara selatan sepakat membentuk Bank Selatan. Saya tidak ingin membahas dua syarat tersebut dari sudut pandang ekonomi, karena saya memang belum menguasainya. Akan tetapi, yang saya benar-benar apresiasi dari negara-negara tersebut adalah semangat kebersamaannya. Menentang IMF dan Bank Dunia (baca: Amerika), luar biasa. Saya yakin, di antara negara-negara Selatan tersebut bukannya tidak ada konflik. Tapi, mereka berhasil mengedepankan kepentingan bersama di atas konflik tersebut, dan bersatu.
Hal yang sama juga telah ditunjukkan oleh berdirinya Uni Eropa. Mereka memiliki mata uang bersama, angkatan bersenjata bersama, bahkan… parlemen bersama! Sungguh banyak manfaat apabila kita bisa bersatu.
Namun melihat kondisi negara-negara Islam, miris hati ini. Di sini, perbedaan begitu dipertonjolkan. Bahkan tidak jarang menumpahkan darah. Konflik di masyarakat Islam dunia tidak hanya terjadi antar-negara, tapi juga dalam-negara! Konflik Syiah-Sunni di Irak, konflik antaretnis di Afghanistan… itu hanya sekelumit dari konflik dalam negara. Konflik antar-negara mungkin sudah tidak terhitung lagi.
Di Islam, ada yang namanya konsep “ukhuwah Islamiyah”. Bahwasannya, setiap orang Islam itu bersaudara. Satu tubuh. Bahkan, ikatan persaudaraan karena Islam lebih kuat daripada ikatan hubungan darah. Tapi mengapa?
Mengapa yang berhasil menerapkan konsep itu adalah masyarakat Uni Eropa? Masyarakat Sosialis di Amerika Selatan?
Mengapa bukan kita?

Kejauhan mikirin ekonomi yang bersatu.
Masalah ibadah aja udah rame duluan, gak mau jadi satu…
Mungkin kapan-kapan nanti baru bisa
Halo Gyl, salam kenal…
Justru karena Uni Eropa dan Selatan mendahulukan masalah “besar dan visioner” seperti ekonomi, ideologi makanya mereka bisa bersatu. Sedangkan kita sibuk mendahulukan masalah “lebih kecil” seperti perbedaan cara ibadah.
Di Eropa yang mayoritas Kristen juga sama terpecah jadi faksi-faksi, ada yang Katolik, Protestan, dan Ortodoks, masing-masing berbeda cara ibadah. Tapi mereka bisa bersatu.
Kita…?
Hmm… BTW, OKI (Organisasi Konferensi Islam) apa kabar ya?
Umm, sebenernya salah satu alasan di balik dibentuknya Bancosur itu juga buat sesuatu yang lebih besar lagi daripada independensi terhadap IMF. Banyak kawasan2 di dunia sekarang sedang ngalamin penggabungan jadi organisasi regional, terinspirasi oleh suksesnya Uni Eropa dalam menggabungkan negara2 yang baru 40 tahun lalu saling hancur-menghancurkan dalam perang dunia II. Contohnya yang paling baru itu buat daerah amerika latin (Unión de Naciones Suramericanas, Unasur) dan afrika (African Union).
Bancosur dibikin sebagai langkah pertama ke arah koalisi kerjasama negara2 di Unasur, sebagai jangkar stabilitas finansial dan ekonomi kawasan amerika latin, dan juga untuk mendanai proyek-proyek pembangunan kawasan tersebut. Analoginya di Uni Eropa adalah European Central Bank (ECB). Analoginya di dunia mahasiswa ya kayak celengan rame2 se-kosan gitu, hahaha.
Jadi kalo kita lihat gambaran besar dan momentum geopolitik dunia, kebutuhan yang lebih mendesak di masa depan adalah memperkuat pembangunan dan kerjasama regional. Untuk kerjasama seperti di OKI atau di organisasi lain yang berbasiskan agama atau budaya, (agak unik juga sebenernya keberadaan OKI, belum pernah ada sebelumnya organisasi supranasional dalam skala sebesar itu yang berbasiskan agama), kebutuhannya masih kalah mendesak dibandingkan dengan mereka yang berbasiskan kebutuhan regional.
Soalnya sejujurnya juga kerjasama antara negara2 dalam satu kawasan bisa lebih erat karena kedekatan geografis dan kemudahan untuk saling membangun.
Mungkin berikutnya coba bahas mendalam tentang Liga Arab juga qi, dan apa saja masalah yang mereka hadapin sampe ngga bisa mewujudkan kerjasama se-erat yang ada di Uni Eropa atau Amerika Selatan.
Warm Regards,
-Ibam-
kita tanya pada diri sendiri??
apakah kita sudah benar??
semangat persatuan bisa terbentuk apabila kita sudah merasa kita ada dalam ‘persatuan’ itu sendiri….
assalamualaikum,,
sebenarnya bukan kita tidak ada usaha. Bukankah sudah ada Islamic Development Bank (IDB)? Masalahnya, seberapa signifikan negara-negara muslim itu memanfaatkan IDB? Kalo kasus Indonesia, di masa lalu mungkin lebih suka memanfaatkan (atau dimanfaatkan?) Bank Dunia dan IMF. Tetapi, sekarang Indonesia udah mulai diversifikasi. Kalo baca di koran, sumber-sumber utang diperluas tidak hanya kepada IMF, tapi misalnya, utang bilateral dengan negara-negara lain dan memanfaatkan modal dari negara-negara Timteng.
Bicara soal bersatunya negara-negara muslim..ini selalu jadi hal yang menarik. Tetapi seringnya, orang lebih banyak mengkritik alih-alih memunculkan ide tentang bagaimana mewujudkannya, Mengharapkan integrasi negara-negara muslim sebagaimana Uni Eropa memang bukan pekerjaan yang mudah (atau memungkinkan). Dalam sejarahnya, Uni Eropa juga bukan dibentuk oleh alasan ideologis-religius (tidak ada klaim resmi bahwa Uni Eropa adalah persatuan negara-negara kristen).
Menurutku, mungkin salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kerjasama pembangunan ekonomi dan interdependensi diantara negara-negara muslim. Misal Indonesia. Dia punya politik luar negeri bebas aktif, tetapi lebih suka membangun kerjasama dengan negara-negara Barat dan Jepang untuk pembangunan ekonomi. Padahal sumberdaya itu sebenarnya banyak. Negara-negara Timur Tengah punya sumber daya modal yang besar sekali. Nah, ini tampaknya mulai diupayakan oleh pemerintah saat ini dengan menunjuk Alwi Shihab sebagai utusan khusus untuk negara-negara Arab. Salah satu targetnya adalah menarik investasi dari Timteng. Bukankah ini langkah bagus? Akan lebih baik bagi kita untuk mulai menjalin kerjasama dengan negara-negara Islam ketimbang terus-menerus bergantung pada modal Jepang, misalnya. Bukan tidak mungkin dengan banyaknya kerjasama (khususnya dalam hal ekonomi), maka akan membuat negara-negara Islam semakin interdependen, sehingga (semoga saja) semakin memperbesar peluang menuju perilaku negara yang lebih mencerminkan rasa kebersamaan karena kesamaan identitas (Islam).
@Via:
Wah, sebuah komentar mendalam dari mahasiswa HI UI, jadi belajar
mau nanya ne..kl bs langsung jawab ya…
apa hubungan perekonomian ASEAN,UNI EROPA,dan AMERIKA SERIKAT??trus negara2 yang termasuk dalam UNI EROPA ma AMERIKA SERIKAT apa aja?