jump to navigation

Lagi, Korban Tewas di-IPDN-kan July 23, 2007

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Opini, Umum.
trackback

“Itu yang tidur, tolong bangun. Kalau tidak, biar di-IPDN-kan saja.”

Kontan saja kami tertawa. Celetukan Pak Musholli saat Kajian Islam Kontemporer itu begitu cerdas. Aktivitas pemukulan tanpa ampun, penghardikan, pengeroyokan dan berbagai kekerasan lainnya beliau rangkum dengan satu kata sekaligus: IPDN. Sebegitu parahkah moral sebagian besar civitas IPDN, sehingga namanya layak mendapatkan peyorasi begitu rupa?

Ternyata ya. Bahkan harus.

Pagi ini (23/7), dengan bersimbah darah seorang tukang ojek bernama Wendi dimakamkan karena dikeroyok praja IPDN (Detik.com). Parahnya, tidak satupun pihak IPDN hadir pada pemakaman Wendi. Tentu saja, ini menambah daftar hitam korban kekerasan yang terjadi di tempat terkutuk itu. Bahkan rektor baru pun setali tiga uang dengan rektor lama, menutup-nutupi kasus ini.

Well, IPDN memang sudah busuk sampai ke akar. Tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari institut kematian ini. Menurut Dr. Inu Kencana, kekerasan, narkoba, seks bebas, pungli, dan korupsi di dalamnya bersifat struktural dan sudah membudaya. Oleh karena itu, perbaikan IPDN tidak bisa dilakukan dengan tambal sulam rektor. Institut ini memang harus dibekukan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Seluruh praja harus pulang ke daerahnya masing-masing. Seluruh orang yang bekerja di sana diberhentikan. Kemudian dibuat institut dengan SDM dan sistem baru. Kalau perlu nama IPDN diganti. Barulah ada harapan ke arah yang lebih baik.

Kembali ke topik, jadi bagaimana? Mulai saat ini mari kita gunakan “meng-IPDN-kan”, “peng-IPDN-an”, dan “di-IPDN-kan”. Karena memang tidak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan hal terkutuk itu. Setuju?

Comments»

1. Unggulux - July 23, 2007

hehe.. bukan situ yang ditegur pak Musoli kan ? hehe.. lam kenal, en lam setuju ama komentar pak Musolinya..

ps : pak Musholi paling keren tuh klo udah ngasih materi.. jadi semangat

2. Muhamad Fajrin Rasyid - July 23, 2007

sedikit ralat, Wendi itu bukan praja, tapi tukang ojek yang ketika itu berselisih dengan para praja itu…

3. Muhammad Ismail Faruqi - July 23, 2007

Terima kasih banyak, sudah diperbaiki. Saya tidak teliti ketika membaca berita lainnya. BTW, yang diperbaiki ternyata hanya dua kata… aneh…

4. ujay - July 23, 2007

iya, saya juga bacanya dia supir ojek..
tapi parah kali lah memang ipdn..

5. Aman - July 23, 2007

Bah..parah kali praja ipdn ni. Tak dapat adek tingkat, supir ojek pun jadilah…

6. Arie - July 25, 2007

There are two sides to every story…

7. phewhe - August 2, 2007

gak setuju ah, seperti ketidaksetujuan saya pada generalisasi Islam adalah teroris…

8. heri - September 24, 2007

kalau yang jadi presiden, aku bubarkan ipdn

9. Sudah jangan ke Jatinangor « ~ Ñeνe®en∂iηg Imρr¤vemeñt™ »> - June 4, 2008

[...] pak Lurah & pak Camat banyak berkeliaran di jalanan Jatinangor. Kalo ketemu bisa-bisa di-IPDN-kan. Nah [...]