jump to navigation

Pindah Blog June 30, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Iseng.
7 comments

Pindah blog ke http://ismailfaruqi.jepang.info. Kalau ada problem waktu mengakses, tolong tulis ya…

People Lives June 23, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Opini.
2 comments

Duh… basi lagi… suka ditaruh di draft kelamaan sih… :( tapi ya sudahlah…

Beberapa hari ini, di lingkungan saya sedang heboh karena berita tentang gempa di Shichuan, Cina. Yang menarik, meski bersimpati kepada Cina, orang Jepang sekitar saya seperti sensei maupun teman selalu menambahkan, “Yah, mau bagaimana lagi… bangunannya tidak didesain untuk tahan gempa sih… jadinya runtuh rata begitu…”. Memang kalau dilihat, area tersebut runtuh seruntuh-runtuhnya -rata.

“Uki-san kalau lihat reruntuhan gempa di Kobe, bangunannya memang hancur, tapi tidak rata dengan tanah seperti ini.”, begitu kata Muraoka-sensei, dosen Writing dan Reading saya.

Orang Jepang mungkin pantas berbicara seperti itu. Dari seluruh gempa yang terjadi di dunia, 20 persennya terjadi di Jepang. Karenanya, mereka peduli dengan gempa (terutama daerah sekitar Tokyo ke atas). Karenanya, desain rumah yang tahan gempa adalah syarat mendirikan bangunan di Jepang. Dengan demikian, korban gempa dapat diminimalisir.

Bandingkan dengan gempa Shichuan. Ada cerita dimana anak-anak yang sedang belajar di sekolah tewas seketika. Ini kan, berarti sekolahnya rubuh seketika. Desain sekolahnya tidak memberikan waktu yang cukup bagi orang di dalamnnya untuk menyelamatkan diri. Ini menjadi pelajaran bagi seorang engineer, tentang betapa pentingnya mendesain sesuatu dengan memberikan perhatian utama bagi keselamatan manusia.

Engineer: To deal with people lives

Katanya para leadership trainer, engineer kerap diasosiasikan sebagai stereotipe orang yang terlalu berfokus pada detail, dan memprioritaskan kesempurnaan. Menurut saya itu wajar, karena kode etik engineer yang pertama adalah memprioritaskan hidup manusia. Untuk itu, mereka dituntut bekerja dengan sempurna, presisi, dan teliti.

Betapa banyak yang memerlukan kesempurnaan, ketepatan, dan ketelitian. Sebut saja jembatan, alat transportasi darat-laut-udara, telekomunikasi, termasuk bangunan. Hal-hal tersebut, tentu saja harus dibuat dengan mengutamakan keselamatan manusia terlebih dahulu. Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang engineer bangga atas ke-engineer-annya.

Dana: Masalah Klasik

Apa yang terjadi di Cina, mungkin akar permasalahannya klasik: dana. Logikanya sederhana: hal yang kualitasnya lebih baik tentu saja memerlukan dana yang lebih besar. Dalam kasus gempa ini, tentu saja bangunan yang tahan gempa jauh membutuhkan dana yang lebih besar dibandingkan bangunan biasa, yang mungkin cukup dari beton, kayu, bata, dan genteng saja. Pemerintah tidak memiliki uang untuk membuat hal tersebut. Hal ini cukup aneh, mengingat pemerintah bisa menganggarkan dana yang begitu besar bagi urusan lain. Di Indonesia, contohnya gampang: anggaran pemilu dan pilkada yang menghebohkan.

Tantangan untuk Researcher

Untuk memecahkan masalah dana,  tantangan bagi para engineer tentunya jelas: bagaimana membuat barang yang lebih berkualitas dengan harga yang sama, atau membuat barang berkualitas sama dengan harga yang lebih rendah.

Tapi mungkin yang paling penting bagi engineer Indonesia adalah membuat barang yang berkualitas tinggi dengan harga yang rendah (well maybe it’s a mythical technology, but… we have to strife to invent it, don’t us?). Harga yang rendah mungkin merupakan faktor utama supaya sebuah teknologi bisa diterapkan di Indonesia. Dengan demikian, jumlah kematian, baik karena kecelakaan maupun bencana alam, dapat diminimalisir. Demikianlah seorang engineer menghargai nyawa manusia.

21 Hari Membangun Kebiasaan June 23, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Iseng.
Tags:
4 comments

“Setiap orang punya kebiasaan buruk, dan umumnya mereka tahu kebiasaan buruk macam apa itu dan apa yang perlu dilakukan untuk menghilangkannya,” kata Charles Glover, Direktur pusat kebugaran 20th Services Squadron.

Berdasarkan penelitian ilmiah, butuh 21 hari untuk membangun sebuah kebiasaan. Glover berkata itu adalah jangka waktu yang diperlukan instruktur di pusat kebugarannya untuk membantu orang menciptakan kebiasaan yang sehat, seperti latihan kekuatan, memulai olahraga baru, atau mengikuti kelas aerobik.

Menukar sebuah kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik sebenarnya cukup mudah, kata Glover. “Langkah pertama adalah memutuskan apa yang ingin Anda lakukan,” katanya, “Tapi hati-hati dengan keputusan Anda! Jangan ‘menelan’ lebih dari batas kemampuan Anda. Itulah mengapa lebih baik membangun hanya satu kebiasaan dulu dalam satu kali.”

Setelah memutuskan tantangan yang akan Anda lakukan itu, selanjutnya lakukanlah selama 21 hari.

“Semudah itu!” kata Glover.

Trik membangun sebuah kebiasaan adalah dengan cara menukar kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baru. Banyak orang mencoba membentuk kebiasaan baru, tetapi gagal karena mereka tidak mengalokasikan waktu yang dibutuhkan untuk itu. Mereka mencoba menambah sebuah kebiasaan baru ke dalam jadwal rutin mereka yang sudah padat. Contohnya, mereka telah memulai satu kebiasaan selama beberapa hari berturut-turut, tapi kemudian melewati satu atau dua hari karena merasa tidak punya waktu, dan akhirnya menyerah. Padahal, jika saja mereka mau menukar sebuah kebiasaan lama, seperti menonton TV atau menelepon, dengan kebiasaan baru tersebut, mereka tidak akan merasa kekurangan waktu. Dengan demikian, kesuksesan lebih mudah diraih.

Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa 21 hari? Apa yang istimewa dari 21 hari?”

Berdasarkan penelitian ilmiah, bila suatu hal dilakukan terus-menerus selama 21 hari, itu akan menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Hal ini membuat kita merasa mudah menjalankan suatu kebiasaan baru tanpa harus merasa terpaksa.

“Sekarang, terserah Anda,” kata Glover, “Tukar kebiasaan lama Anda dengan kebiasaan baru selama 21 hari saja, setelah itu Anda akan menemukan diri Anda yang baru.”

*dicopy-paste dari postingan buletin Ahmad Fikri, telah diujicoba selama 14 hari dengan derajat keberhasilan 60% . Not bad. Thank you Fikri :D

Teman-teman Dari Berbagai Negara April 3, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Diary.
add a comment

Hari ini, saya akan melakukan registrasi ke “kantor kecamatan”. Nama “kelurahan” tempat saya tinggal adalah Onohara, nama “kecamatan”-nya adalah Minoo. Sementara nama “kota”-nya adalah Osaka.

Saya bertemu dengan orang-orang asing seasrama yang juga baru tiba kemarin. Kami semua dibimbing oleh Kouta-san, seorang sukarelawan dari Osaka University, akan melakukan registrasi bersama-sama. Teman-teman saya tersebut adalah:

  1. Bennet David Mark Gilfedder (Australia) Farmasi
  2. Good, Jean-marc (Swiss) Kedokteran
  3. Ahmad Mohammad Haredy (Mesir) Engineering
  4. Ehab Salah Eshak (Mesir) Kedokteran
  5. Karuppuchamy Thangraj (India) Kedokteran
  6. Chaterjee Amar Nath (India) Kedokteran
  7. Gerardo Rodriguez Araujo (Mexico)
  8. Edgar Eduardo Hernandez Cuellar (Mexico)
  9. Thang Manh Nguyen (Vietnam)
  10. Napadon Wantanamee (Thailand) Teknik Mesin
  11. Mahdi Behran Rad (Iran) Teknik Elektro
  12. Herardo (Brazil) Kedokteran

Mudah-mudahan saya bisa berteman baik dengan mereka :)

Barang Bekas April 2, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Diary.
Tags: , ,
1 comment so far

Tinggallah saya sendirian di kamar, kebingungan mau apa di tengah suhu yang semakin menurun. Untuk sekedar menggerakkan badan, akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan, sambil mencari lokasi toko-toko terdekat dan telepon umum internasional. Saya berhasil menemukan 3 lokasi toko dan 2 lokasi telepon umum. Tidak lupa, saya janjian dengan Euis-san supaya bertemu di dorm saya.

Sepulang dari sana, saya melihat Euis-san dan seorang temannya sudah berada di dorm saya, Onohara Haitsu. Saya segera berkenalan dengan temannya Euis-san, yang bernama mas Abdi. Tentu saja, mereka adalah teman Indonesia pertama saya di Jepang. Tujuan mereka datang adalah untuk menentukan barang apa saja yang saya perlukan.

Untuk itu, kami bertiga ke kamar saya. Setelah melihat kamar saya yang kosong melompong, mereka berdua sepertinya mengerti barang-barang yang saya butuhkan. Barang-barang tersebut ada di rumah Euis-san dan temannya, Mbak Dian. Karena Mbak Dian belum pulang dari lab, kami pergi ke rumah Euis-san terlebih dahulu. Di sini, saya diberi satu lapis futon dan rice-cooker. Kemudian dari tetangga sebelah Euis san, pak Herman, saya diberikan gorden, pemanas ruangan, dan penghangat kasur. Baru setelah itu kami ke rumah mbak Dian. Dari beliau, saya menerima hanger baju, peralatan masak, water heater, microwave, bantal, 2 lapis futon, dan selimut. Meski semuanya bekas… tapi tidak apa-apa, yang penting saya bisa survive untuk malam ini. Maka sepulang dari rumah teman-teman baru itu, saya segera set-up kamar saya dan… tidur nyenyak, he2…

Barang Bekas

Mengapa di Jepang banyak barang bekas (yang masih bagus) dibuang? Jepang adalah negara dengan peringkat konsumerisme terbesar di dunia. Karena inovasi berjalan tiada henti, maka barang-barang dengan teknologi baru (terutama elektronik dan mobil) cepat keluar. Masyarakat Jepang tidak terbiasa untuk memakai barang lama. Mereka terbiasa untuk mengikuti teknologi terbaru. Akibatnya, meski umur barang-barang baru 3 tahun, tidak jarang sudah dibuang. Selain itu, masyarakat Jepang punya kepercayaan bahwa menggunakan barang bekas orang lain akan membawa sial. Dan faktor terakhir adalah masalah space (ruangan). Rumah di Jepang sempit-sempit, contohnya tidak jarang kamar mandi hanya berukuran 1,5 m x 1,5 m. Oleh karena itu, barang yang bekas sering dibuang.

Onohara Haitsu April 2, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Diary, Jalan-Jalan.
Tags:
2 comments

Dormitory (kos-kosan) saya bernama Onohara Haitsu. Lokasinya dekat dengan kampus, kalau naik sepeda mungkin hanya 5 menit. Letaknya juga strategis, berada tepat di atas sebuah supermarket, yang bernama Kansai Suupaa.

Kamar Saya di Onohara Haitsu, lingkaran merah

Onohara Haitsu memiliki 4 lantai, dimana lantai 1 dan 2 adalah parkir mobil, dan lantai 3 serta 4 adalah kamar yang disewakan. Saya sendiri tinggal di lantai 4. Sayangnya, meski memiliki 4 lantai, tak ada lift di dormitory ini. Bahwa saya berhasil menyeret-memikul tas bagasi saya seberat 27 kilo ke lantai 4, membuktikan bahwa Onohara Haitsu merupakan tempat yang cukup baik untuk berlatih mengangkat beban.

Pemandangan dari lantai 4


Kecewa

Sesampainya di lantai 4 (tentu saja dengan beban 27 kg tersebut), saya segera membuka kunci kamar saya. Yang pertama kali saya rasakan adalah kekecewaan. Kekecewaan pertama dikarenakan kamar saya kosong melompong. Tidak ada perabot sama sekali. Sementara suhu di sini hanya sekitar 10 derajat C. “Bagaimana saya bisa tidur?”, pikir saya.

Kekecewaan kedua adalah bahwa untuk setiap 24 kamar, hanya tersedia 2 toilet dan 1 bathroom. Toilet di sini hanya jamban + tisu rol saja. Maaf buat orang Indonesia, tidak ada air untuk membersihkan kotoran. Gunakan tisu.

Kekecewaan ketiga adalah jeleknya benda-benda yang ada di kamar saya. Lemari baju (oshire) tidak memiliki penutup. Tidak ada pula besi untuk menggantung baju. Penghangat yang ada kotor dan rusak, berbunyi seperti genset diesel jika dinyalakan.

Kekecewaan terakhir adalah karena saya telah membayar 100,000 yen untuk ini, sementara teman saya yang hanya membayar 50,000 yen untuk bulan ini mendapatkan fasilitas kamar seperti hotel, lengkap dengan perabot, elektronik, dan kamar mandi pribadi.

Saya hanya bisa menghela nafas. Apa boleh buat. Tiba-tiba Ino-sensei berkata,

“Uki-san, sekarang dilist aja barang yang harus dibeli. Setelah ini kita akan langsung belanja bersama”, kata Ino-sensei.

Saya pun segera me-list barang-barang yang akan saya beli. Tadinya saya akan membeli banyak, tapi saya teringat bahwa teman-teman Indonesia yang tinggal dekat sini akan memberikan barang-barang yang tidak terpakai. Sehingga akhirnya, saya hanya membeli jam dan nasi. Setelah belanja dari sana, Ino-sensei, Munekawa-san, dan Okuyama-san kembali ke lab, sehingga saya tinggal sendirian kamar.

Pemandangan lain dari lantai 4

Tiba di Jepang April 2, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Diary, Jalan-Jalan, Kuliah.
Tags:
4 comments

Sesampainya di bandara Narita di Tokyo, kami bergegas untuk menjalani prosedur imigrasi, seperti pemeriksaan paspor dan registrasi. Eh, memang dunia sempit, setelah itu saya bertemu dengan Sandy IF01. Saya diberiknya onigiri. Onigiri itu nasi kepal yang dibungkus dengan suatu daun berwarna hijau – serupa lemper. Ketika sedang makan, saya melihat Dewi-sensei sedang memakan daun hijau tersebut.

`Lah Dewi-sensei, ngapain daun pisangnya dimakan??!` kata saya.

`Dasar,` katanya. `Ini bukan daun pisang, tapi rumput laut…`

`…`

Maka setelah menyadari bahwa di-Jepang-tak-ada-daun-pisang, kami membeli tiket bus Airport Limousine yang diperlukan untuk berpindah ke bandara Haneda (yang berada di Tokyo juga). Sambil di sana, ternyata saya juga tidak sengaja bertemu Rasyid Aqmar, alumni SMU 1 Bogor angkatan 2000. Memang benar istilah `Smunsa Bogor Everywhere`, nggak di Bandung, di Jogja, atau di Tokyo… adaa aja..

Sesudah menunggu semua anggota rombongan selesai membeli tiket, kami pamit dengan anggota Monbusho lain yang akan belajar di Tokyo. Setelah itu, kami keluar gedung untuk menuju halte bus Airport Limousine. Begitu keluar dari gedung, brrr… dingin sekali. Saya melihat thermometer, ternyata 12 derajat Celcius. Ternyata di dalam bandara lebih hangat…

Rencananya, dari Haneda kami akan naik pesawat menuju bandara Itami, Osaka. Pohon-pohon sakura terlihat begitu merekah sepanjang perjalanan kami. Bagi yang pertama kali datang ke Jepang, mereka akan terkagum-kagum melihat betapa bersihnya jalan dan lingkungan sekitarnya. Bus memasuki jalan tol. Terlihat Tokyo Bay, dan juga Tokyo Disneyland. Saya berharap mudah-mudahan bisa datang ke sana waktu liburan.

Setelah sekitar 40 menit, akhirnya bus tiba di bandara Haneda. Bandara ini merupakan bandara yang lebih kecil daripada bandara Internasional Narita, karena hanya melayani penerbangan lokal se-Jepang. Setibanya di sana, kami segera turun dari bus. Oh ya, meskipun jarak tempuh bus hanya sejauh Cengkareng-Halim Perdanakusumah, harga tiketnya mahal: 3000 yen (Rp 270.000). Benar-benar memecahkan rekor tiket bus termahal yang pernah saya beli, hehehe…

Kami segera menelepon beberapa anggota keluarga untuk lapor bahwa kami tiba. Setelah itu, kami sedikit jalan-jalan, dan shopping, dan lalu menaiki pesawat terakhir. Pesawat yang ini lebih padat daripada yang dari Jakarta. Di setiap kursi ada LCD yang menginformasikan lokasi pesawat di atas peta, ketinggian, serta kecepatan pesawat. Saya sendiri mendapat kursi yang berada di samping jendela.

Semakin tinggi pesawat mengudara, semakin kecil pemandangan di darat terlihat. Kereta dan mobil-mobil yang sedang berjalan jadi terlihat seperti mainan. Kapal tanker yang berada di laut menjadi sekecil semut. Dari atas, saya bisa melihat betapa padatnya kota-kota di Jepang, namun juga begitu lowongnya daerah pegunungan di Jepang.

(more…)

Pertama Kali Naik Pesawat April 2, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Jalan-Jalan, Kuliah.
Tags:
5 comments

Bismillahilladzi sakkhara lanaa haadza wa maa kunna lahu muqriniin.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di pesawat, doa di atas adalah hal yang pertama kali saya ucapkan. Diiringi doa segenap keluarga dan teman-teman, akhirnya saya diamanahi untuk belajar di Jepang via beasiswa Monbukagakusho. Bagi saya yang ndeso-dan-relatif-tidak-berprestasi ini, ini adalah kali pertama naik pesawat, sekaligus kali pertama ke luar negeri. Bagaimana tidak, dalam 21 tahun hidup saya selalu tinggal di Jawa Barat. Seluruh keluarga di Jawa Barat. Sekolah dari TK sampai S1 di Jawa Barat. Mana tidak pernah lolos lomba sampai taraf internasional (nasional aja enggak).

Pesawat yang saya naiki malam itu adalah JAL, nomor penerbangan 716, kelas Ekonomi. Harga yang tertulis di tiket hampir $2000, jurusan Cengkareng-Narita-Itami. Pertama kali saya lihat, “wah kelas ekonomi macam apa ini harganya sampai 20 juta?”. Akan tetapi, ternyata definisi “pesawat kelas ekonomi” a la Jepang berbeda dengan “pesawat kelas ekonomi” di Indonesia. Kalau pesawat kelas ekonomi-nya Jepang, anda akan mendapatkan *lebih* dari semua yang anda butuhkan. Kalau kelas ekonomi Indonesia, mungkin anda tidak anda tidak akan mendapatkan semua yang anda butuhkan (termasuk keselamatan).

Sesudah sampai di bandara Narita, saya masih deg-degan pada take-off dan landing-nya pesawat. Semua persiapan harus dilakukan sesempurna mungkin. Mulai dari mengencangkan ikat pinggang, mematikan alat elektronis, merapikan meja makan, dan sebagainya. Sesudah hal tersebut disiapkan, pesawat akan bergoyang-goyang, menderu-deru kencang, menekan badan, bahkan terkadang membuat mual. Hal tersebut mengingatkan saya pada kuliah.

Kuliah = Penerbangan

Kuliah, seperti halnya sebuah penerbangan, memiliki saat “take off” dan “landing“-nya sendiri. Saat take-off kuliah adalah saat dimana kita mulai masuk sekolah. Segala sesuatu harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Mulai dari pendaftaran, uang yang harus disediakan, dan ujian masuk. Persiapan ini tidak jarang memakan waktu yang lama, bahkan bisa bertahun-tahun. Apalagi yang belajar di luar negeri, harus ditambah belajar bahasa pula. Kalau bahasanya Melayu sih masih mending. Nah kalau bahasanya Jepang yang hurufnya ribuan, atau bahasa Arab yang satu hal bisa memiliki sampai 50 kata, atau bahasa Yunani yang hurufnya seperti rumus matematika semua? Nah lho.

Saat “landing” dari sekolah adalah kelulusan. Seperti halnya “take off”, persiapan landing pun harus sempurna. Pastikan persyaratan mata kuliah terpenuhi, kerjakan skripsi/tesis, revisi berkali-kali, sampai pengurusan sidang.

Kadang kita terguncang saat take-off maupun landing kuliah itu. Atau tertekan, bahkan menjadi mual. Kedua hal tersebut memang menyeramkan. Namun di antara take-off dan landing, kita terbang melihat awan dan lautan. Begitu halnya sewaktu kita kuliah, kita bisa terbang dan melihat samudera pengetahuan yang teramat luas. Kadang di antara samudera pengetahuan itu ada satu tempat yang begitu cantik, yang membuat kita ingin mendarat di sana. Tempat itulah spesialisasi kita.

Dulu Uni Eropa, Sekarang Amerika Latin. Kapan Islam? January 6, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Bangsa dan Negara, Opini.
Tags:
8 comments

Beberapa waktu yang lalu, sebuah berita yang mencengangkan tertulis di Kompas. Negara-negara di Kawasan Amerika Latin bersepakat untuk membentuk Bank Selatan (Bancosur). Beberapa negara-negara yang tergabung di dalamnya yakni Venezuela, Argentina dan Ekuador. Selain membentuk Bank Selatan, mereka juga bersepakat keluar dari IMF dan Bank Dunia.

Mengapa negara-negara tersebut membentuk bank ini dan keluar dari keanggotaan IMF serta Bank Dunia? Kebijakan IMF-lah yang menjadi pemicunya. Kedua badan tersebut selalu memiliki syarat yang merugikan untuk membantu perekonomian negara miskin. Yang pertama, BUMN biasanya harus diprivatisasi. Yang kedua, biasanya subsidi untuk orang miskin harus dihapuskan.

Di Indonesia, kedua hal tersebut sudah terjadi. Masalah privatisasi, kita lihat kasus Indosat. Menurut Marwan Batubara dalam bukunya (saya lupa), privatisasi Indosat adalah keinginan IMF. Hasilnya? Keuntungan Indosat bertriliun-triliun, yang tadinya masuk ke kas pemerintah, sekarang masuk ke kas asing. (more…)

Penyakit Sang Koruptor January 6, 2008

Posted by Muhammad Ismail Faruqi in Bangsa dan Negara, Islam, Opini.
Tags:
2 comments

Pagi ini, headline semua koran kompak satu tema: Soeharto. “Soeharto Sudah Dapat Tersenyum”, begitu tertulis di Kompas.

Heran saya. Kok bisa, orang tersenyum bisa masuk koran. Setelah saya cek, Oo… ternyata karena ia mengidap komplikasi yang… saya sendiri ragu masih bisa tersenyum atau tidak kalau mengidapnya.

Berikut ini adalah list kronologis penyakit Soeharto:

  1. Stroke ringan (1999-07)
  2. Ambeien (1999-08)
  3. Gangguan Otak (2000-03 s/d 2000-09)
  4. Anfal dan Sesak Nafas (2000-11)
  5. Usus Buntu (2001-02)
  6. Gangguan Jantung (2001-06)
  7. Radang Paru-paru (2001-12)
  8. Pendarahan Usus Besar (2004-04)
  9. Pendarahan Saluran Cerna (2006-05)
  10. Penyumbatan Pembuluh Darah Otak (2006-05)
  11. Tubuh Membengkak (2008-01)

Kalau melihat ini, menurut konsep Islam sepertinya Allah masih sayang pada Soeharto. Dia ingin menghapuskan dosa Soeharto dengan mengujinya oleh berbagai macam penyakit. Pertanyaannya, sebesar apakah dosanya sampai didera penyakit begitu rupa???

Ya Allah, sebagian dari kami (IF2003) sudah mulai bekerja. Berikan kami kekuatan agar dapat terhindar dari dosa mencuri yang bukan hak kami. Dan ampuni kami atas dosa kami yang terdahulu…

P.S: Di negeri ini, tidak heran apabila orang yang akan diperiksa tiba-tiba sakit.