Science, Guidance, Defiance

Latest

Important Changes

Starting from 2012, I made a change to this blog. The first one is I began to write in English in this blog. I hope I can increase my writing skill by expressing my thoughts in English. As a consequence, I will also convert all categories’ name into English. The second one, I began to try to separate specific topics into its own blog. I think it is a bad idea to have a blog mixed of everything, that will only make the reader harder to follow my blog. Hence, as a first step I launched IndoHiking, a specialized place to express my passion in ultralight backpacking, in Indonesian language. I hope this move ease the reader to follow my blog. Thanks!

Sertifikasi Bahasa Inggris: Yang Mana?

Disclaimer: Artikel ini hanya sebagai referensi, dan penulis tidak bertanggung jawab atas  kemungkinan apabila sertifikasi yang dibutuhkan berbeda dengan apa yang dijelaskan dalam artikel ini. Penulis juga terbuka atas koreksi pembaca :)

Para pembaca tentu sudah tidak asing lagi dengan tes TOEFL. Test Of English as a Foreign Language seringkali dibutuhkan untuk melamar kerja atau melanjutkan kuliah di luar negeri. Akan tetapi, sebenarnya masih ada jenis tes bahasa Inggris lain seperti TOEIC, IELTS, GRE, dan GMAT. Mengingat biaya masing-masing tes yang berkisar antara Rp 750rb – Rp 1.5jt, tentunya akan lebih baik mengetahui masing-masing tes, sehingga kita bisa mengambil tes yang tepat sesuai dengan kebutuhan kita. Berdasarkan negara tujuan, tes yang lebih tepat adalah sebagai berikut.

Read the rest of this page »

ARM Mali T604: GPU Mobile Pertama yang Mendukung OpenCL

Halo pembaca! Lama tidak bersua :D

Setelah sekian lama menunda-nuda menulis di blog ini, saya putuskan untuk kembali ke sini. Mengapa? Karena ternyata blog saya yang baru kurang pengunjung :D Selidik punya selidik, ternyata mungkin karena fasilitas SEO-nya belum di-tune dengan baik. Jadi, sambil belajar bagaimana tuning SEO, saya putuskan untuk sambil menulis di sini saja :)

Mungkin sudah agak basi, tapi buat para penggemar GPGPU ada berita baik yakni satu GPU yang mendukung OpenCL telah hadir. GPU ini dirilis oleh ARM dan dinamakan Mali T604. Lho, apa keistimawaannya? Ternyata GPU ini mendukung OpenCL! Untuk mempersingkat waktu searching silakan lihat infonya di sini ;D

Mengapa dukungan OpenCL begitu istimewa? Karena dengan menggunakan OpenCL, pembuatan aplikasi GPGPU pada smartphone menjadi lebih mudah. Tentu saja kita bisa membangun aplikasi GPGPU di smartphone menggunakan OpenGL ES, namun langkah pembuatannya lebih rumit! Berarti kemungkinan aplikasi yang dibuat untuk GPU menjadi jauh lebih luas? Tentu saja, asalkan batere telepon anda cukup karena GPU merupakan komponen yang boros power.

ARM Mali T604, courtersy of ARM

ARM Mali T604, courtersy of ARM

Seperti yang bisa pembaca lihat di diagram, Mali dapat dikonfigurasi dari satu sampai empat shader core, yang saya prediksikan akan menjadi unit komputasi dalam OpenCL. Produsen smartphone pertama yang kemungkinan besar akan menggunakan ARM Mali ini diperkirakan adalah Samsung. Namun tidak menutup kemungkinan Apple, karena Apple merupakan salah satu produsen yang getol mempromosikan OpenCL.

Nah, karena hardware-nya sudah dirilis, mudah-mudahan smartphone dan OS yang mendukung OpenCL/CUDA segera dirilis juga, karena potensi marketnya sangat besar! Pertanyaannya siapakah yang akan mengeluarkan driver untuk OpenCL terlebih dahulu? Android ataukah iOS?

;)

21 Hari Membangun Kebiasaan

“Setiap orang punya kebiasaan buruk, dan umumnya mereka tahu kebiasaan buruk macam apa itu dan apa yang perlu dilakukan untuk menghilangkannya,” kata Charles Glover, Direktur pusat kebugaran 20th Services Squadron.

Berdasarkan penelitian ilmiah, butuh 21 hari untuk membangun sebuah kebiasaan. Glover berkata itu adalah jangka waktu yang diperlukan instruktur di pusat kebugarannya untuk membantu orang menciptakan kebiasaan yang sehat, seperti latihan kekuatan, memulai olahraga baru, atau mengikuti kelas aerobik.

Menukar sebuah kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik sebenarnya cukup mudah, kata Glover. “Langkah pertama adalah memutuskan apa yang ingin Anda lakukan,” katanya, “Tapi hati-hati dengan keputusan Anda! Jangan ‘menelan’ lebih dari batas kemampuan Anda. Itulah mengapa lebih baik membangun hanya satu kebiasaan dulu dalam satu kali.”

Setelah memutuskan tantangan yang akan Anda lakukan itu, selanjutnya lakukanlah selama 21 hari.

“Semudah itu!” kata Glover.

Trik membangun sebuah kebiasaan adalah dengan cara menukar kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baru. Banyak orang mencoba membentuk kebiasaan baru, tetapi gagal karena mereka tidak mengalokasikan waktu yang dibutuhkan untuk itu. Mereka mencoba menambah sebuah kebiasaan baru ke dalam jadwal rutin mereka yang sudah padat. Contohnya, mereka telah memulai satu kebiasaan selama beberapa hari berturut-turut, tapi kemudian melewati satu atau dua hari karena merasa tidak punya waktu, dan akhirnya menyerah. Padahal, jika saja mereka mau menukar sebuah kebiasaan lama, seperti menonton TV atau menelepon, dengan kebiasaan baru tersebut, mereka tidak akan merasa kekurangan waktu. Dengan demikian, kesuksesan lebih mudah diraih.

Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa 21 hari? Apa yang istimewa dari 21 hari?”

Berdasarkan penelitian ilmiah, bila suatu hal dilakukan terus-menerus selama 21 hari, itu akan menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Hal ini membuat kita merasa mudah menjalankan suatu kebiasaan baru tanpa harus merasa terpaksa.

“Sekarang, terserah Anda,” kata Glover, “Tukar kebiasaan lama Anda dengan kebiasaan baru selama 21 hari saja, setelah itu Anda akan menemukan diri Anda yang baru.”

Update: OK saya akan mencoba melist apa saja kegiatan saya yang telah berhasil dijadikan kebiasaan:

  1. Wirid sesudah shalat subuh (2010).
  2. Kultum sesudah wirid shalat subuh (2010).

*dicopy-paste dari postingan buletin Ahmad Fikri, telah diujicoba selama 14 hari dengan derajat keberhasilan 60% . Not bad. Thank you Fikri :D

Dulu Uni Eropa, Sekarang Amerika Latin. Kapan Islam?

Beberapa waktu yang lalu, sebuah berita yang mencengangkan tertulis di Kompas. Negara-negara di Kawasan Amerika Latin bersepakat untuk membentuk Bank Selatan (Bancosur). Beberapa negara-negara yang tergabung di dalamnya yakni Venezuela, Argentina dan Ekuador. Selain membentuk Bank Selatan, mereka juga bersepakat keluar dari IMF dan Bank Dunia.

Mengapa negara-negara tersebut membentuk bank ini dan keluar dari keanggotaan IMF serta Bank Dunia? Kebijakan IMF-lah yang menjadi pemicunya. Kedua badan tersebut selalu memiliki syarat yang merugikan untuk membantu perekonomian negara miskin. Yang pertama, BUMN biasanya harus diprivatisasi. Yang kedua, biasanya subsidi untuk orang miskin harus dihapuskan.

Di Indonesia, kedua hal tersebut sudah terjadi. Masalah privatisasi, kita lihat kasus Indosat. Menurut Marwan Batubara dalam bukunya (saya lupa), privatisasi Indosat adalah keinginan IMF. Hasilnya? Keuntungan Indosat bertriliun-triliun, yang tadinya masuk ke kas pemerintah, sekarang masuk ke kas asing. Read the rest of this page »

Penyakit Sang Koruptor

Pagi ini, headline semua koran kompak satu tema: Soeharto. “Soeharto Sudah Dapat Tersenyum”, begitu tertulis di Kompas.

Heran saya. Kok bisa, orang tersenyum bisa masuk koran. Setelah saya cek, Oo… ternyata karena ia mengidap komplikasi yang… saya sendiri ragu masih bisa tersenyum atau tidak kalau mengidapnya.

Berikut ini adalah list kronologis penyakit Soeharto:

  1. Stroke ringan (1999-07)
  2. Ambeien (1999-08)
  3. Gangguan Otak (2000-03 s/d 2000-09)
  4. Anfal dan Sesak Nafas (2000-11)
  5. Usus Buntu (2001-02)
  6. Gangguan Jantung (2001-06)
  7. Radang Paru-paru (2001-12)
  8. Pendarahan Usus Besar (2004-04)
  9. Pendarahan Saluran Cerna (2006-05)
  10. Penyumbatan Pembuluh Darah Otak (2006-05)
  11. Tubuh Membengkak (2008-01)

Kalau melihat ini, menurut konsep Islam sepertinya Allah masih sayang pada Soeharto. Dia ingin menghapuskan dosa Soeharto dengan mengujinya oleh berbagai macam penyakit. Pertanyaannya, sebesar apakah dosanya sampai didera penyakit begitu rupa???

Ya Allah, sebagian dari kami (IF2003) sudah mulai bekerja. Berikan kami kekuatan agar dapat terhindar dari dosa mencuri yang bukan hak kami. Dan ampuni kami atas dosa kami yang terdahulu…

P.S: Di negeri ini, tidak heran apabila orang yang akan diperiksa tiba-tiba sakit.

Bakti Informatika ITB: IT untuk Si Miskin

“Anak-anak, yang paling penting dalam programming adalah jam terbang.”
Dr. Ir. Inggriani Liem, MM., Dosen senior IF ITB

“Aku tuh mulai programming dari kelas 3 SMP.”
Ali Akbar, mahasiswa IF ITB 2003 termuda dan lulus tercepat predikat cum laude

Bayangkan ada seorang anak kelas 3 SMP mengenal bahasa Basic. Setahun kemudian ia menyentuh C dan C++. Kelas 2 SMA ia mulai belajar ilmu software engineering. Terakhir, pada kelas 3 SMA setelah lumayan makan asam garam programming, ia memfokuskan skillnya pada image processing. Menurut anda apakah anak itu bisa mandiri selepas SMA? Apakah anda ingin memiliki anak seperti itu? Dan…

Apakah itu mungkin?

Mungkin saja apabila anak itu adalah seorang anak superjenius, berasal dari strata menengah ke atas, dan salah satu keluarganya adalah IT expert. Kira-kira itu yang terbayang dalam pikiran anda. Lalu bagaimana dengan anak-anak biasa, ekonominya biasa, dan tidak punya akses IT? Rasanya mustahil. Apalagi anak-anak putus sekolah seperti pengamen jalanan cilik.

Memang benar, anak-anak golongan terakhir mustahil melakukan itu. Namun pernahkah anda berpikir, mengapa mereka mustahil melakukan hal itu? Apa karena mereka tidak cerdas? Rasanya tidak. Contohnya, IF telah menunjukkan bahwa mereka mampu menempa anak SMA yang awalnya buta IT, sehingga 4 tahun kemudian memiliki skill yang mampu membuat mereka mampu mencari nafkah. Pernyataan Ali Akbar dan Bu Inge pun diamini oleh sebagian besar kalangan IF sendiri.

Apa yang menyebabkan orang miskin tetap miskin, orang bodoh tetap bodoh, dan negara kita yang tertinggal tetap tertinggal, adalah karena tidak memiliki kesempatan. Seandainya mereka memiliki kesempatan yang sama seperti Ali Akbar, beberapa di antara mereka mungkin bisa melewati anda di umur yang sama. Seandainya mereka memiliki kesempatan, mereka mungkin dapat meninggalkan kemiskinan mereka. India mampu bangkit dari negeri kumuh dan miskin menjadi pengekspor ekspatriat terbesar di dunia karena IT.

Lalu siapa yang akan memberi kesempatan pada orang miskin untuk belajar IT?

Keterlaluan rasanya jika civitas Informatika ITB masih melirik ke kanan-kiri mencari siapa yang melakukannya. IF ITB-lah yang memiliki tanggung jawab terbesar! Mereka dibimbing dosen-dosen terbaik. Akses informasi tanpa batas. Fasilitas berlimpah. Dan itu ditanggung uang negara. Maka dari itu, tanggung jawab untuk memberikan IT kepada si miskin tidak terletak pada bahu jurusan Teknik Informatika universitas XX yang bisa lulus tanpa kuliah…!

Dedikasi IF-ITB pada pendidikan IT massal untuk rakyat miskin dapat mengubah wajah kota Bandung. Dan dedikasi universitas lain pada hal ini akan mencerahkan masa depan anak-anak Indonesia.

Manfaat Mendidik IT Massal

Manfaat dari mendidik IT secara massal adalah:

  1. Membantu mahasiswa IF ITB mencapai kebahagiaan hidup. Telah banyak tokoh sukses terkenal yang mewasiatkan bahwa kebahagiaan hidup tidak terletak pada keberlimpahan harta, jabatan yang tinggi, namun sederhana: Dicintai sesama, didoakan sesama, karena bermanfaat bagi sesama.
  2. Mencetak tunas-tunas IT expert yang siap diakselerasi di jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, akselerasi tunas-tunas ini sangat mungkin meninggalkan lulusan SPMB ketika bersama memasuki IF!
  3. Langkah strategis mengurangi kemiskinan dan pengangguran di kota Bandung.
  4. Sarana melatih kemampuan presentasi bagi mahasiswa IF ITB. Karena motivasi belajar anak-anak tersebut akan berbanding lurus dengan kesungguhan mahasiswa untuk mengajar mereka.

Tentu saja masih ada keuntungan lain seperti aspek ekonomis. Namun tidak perlu saya bahas agar mahasiswa IF ITB tidak mengotori kemurnian niat untuk berkontribusi bagi masyarakat ini.

Rancangan Implementasi

Orang-orang yang bernuansa negatif akan berkata, “Ini mungkin, tapi sulit”. Sementara orang bernuansa positif akan berkata, “Ini sulit, tapi mungkin”. Usul ini mungkin direalisasikan. Ada berbagai cara agar niat ini dapat diimplementasikan secara efektif. Salah satu usul yang saya usulkan, program ini dimasukkan ke dalam kurikulum 2008 sebagai SKS opsional. Dalam SKS ini, setiap anak IF berkewajiban untuk mengajarkan ilmunya satu kali dalam seminggu. Sementara penilaian SKS ini diukur dari sejauh mana anak yang diajar mampu memecahkan persoalan-persoalan IT. Tentu saja, aspek yang ditonjolkan dari usul di atas bukan SKS-nya, tapi aspek social responsibility-nya. Bahkan kalau perlu SKS ini dijadikan trademark IF ITB, untuk membuktikan bahwa alumninya selain memiliki skill juga memiliki kepekaan hati, kemampuan presentasi yang baik, serta kemauan yang keras.

Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan lain yang harus dijawab ketika program ini didesain, seperti:

  1. Siapa yang akan diajar?
  2. Apa yang akan diajarkan?
  3. Bagaimana agar pendidikannya kontinu?
  4. Bagaimana menilai kinerja pengajar?
  5. Bagaimana menilai kinerja yang diajar?
  6. Bagaimana menjaga motivasi pengajar?
  7. Dimana tempatnya?
  8. Siapa penyedia fasilitasnya?
  9. Dll.

Terakhir, tujuan usul ini bukanlah citra IF sendiri. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai sejauh mana keseriusan dan kepedulian IF ITB terhadap masyarakat Bandung. Usul ini berangkat dari kesadaran, bahwa di tangan civitas IF-ITB-lah nasib bangsa ini berada. Kita lah yang memiliki kekuatan untuk mencetak Ali Akbar-Ali Akbar baru. Dan yang pasti, ketika seluruh civitas dan alumni IF ITB memiliki ketulusan dan ketahanan berjuang untuk melakukan hal ini, Tuhan akan membukakan jalan seluas-luasnya.

Ditunggu masukannya, sahabat dan rekan IF semua…

DORRR!!!

Mari Berlari

Agustus 2007

Kadang-kadang memang ada waktunya untuk merenungi yang telah terjadi, terutama jika hal itu spesial. Berhubung Agustus lalu cukup ‘spesial’, maka saya renungi saja di blog ini. Ya, berhubung banyak kejadian di bulan Agustus, maka bulan itu jadi spesial buat saya. Spesialnya dimana sih?

Read the rest of this page »

Memilih Pemimpin = Memilih Pasangan

Rasulullah berpesan agar kita memilih pasangan berdasarkan empat kriteria:

  1. Penampilan
  2. Keturunan
  3. Harta
  4. Agama

Ehm, siapa yang tidak mau berjodoh dengan orang yang memiliki keempat hal tersebut bersamaan. Beruntunglah ia yang bisa bersanding dengan orang seperti itu. Sayang, karena orang seperti itu sangatlah *langka*, maka dalam menentukan pasangan Rasul berpesan agar kita memprioritaskan pemahaman agama calon pasangan kita. Jadi, agar hidup kita bahagia dunia akhirat, pilihlah yang agamanya baik. Hal lain bisa menyusul, kira-kira begitu.

Yang menarik, aturan ternyata yang sama bisa diterapkan dalam memilih pemimpin lho! Ya kan? Siapa yang tidak mau pemimpin yang makmur, agamanya baik, dari keturunan yang baik, dan berpenampilan baik? Tapi karena pemimpin seperti itu langkanya minta ampun, maka kita harus memprioritaskan pilihan kita pada pemimpin yang agamanya baik. Sayang, meski banyak orang yang menyadari 4 kriteria di atas dalam memilih pasangan hidupnya, ternyata masih sedikit di Indonesia ini yang menerapkan kriteria yang sama dalam memilih pemimpin. Masih banyak orang / partai yang memilih pemimpin karena uangnya, “Loe berani setor berapa ke gue?” Kalau begitu, mana bisa berubah keadaan kita. Budaya preman akan melahirkan preman baru. Atau karena bapaknya dan ibunya pemimpin besar, tanpa melihat kualitas dirinya. Padahal kalau cuma numpang nama, anak kecil juga bisa.

Hal ini sangat penting, karena scope seorang pemimpin jauh lebih besar daripada scope seorang pasangan hidup. Pasangan hidup yang kita pilih mungkin hanya akan menentukan hidup kita sendiri. Tapi pemimpin yang kita pilih, akan menentukan hidup, kemakmuran, atau kemelaratan orang lain pula! Dan pemimpin yang memiliki probabilitas terbesar dalam membawa kebahagian rakyatnya adalah pemimpin yang memiliki pemahaman agama yang baik!

So, ayo kita prioritaskan pemahaman agama dalam memilih setiap pemimpin kita, baik pimpinan di kampus, kantor, gubernur, sampai…. presiden. Dan jangan lupa, berikan juga pendidikan ini pada masyarakat, agar mereka menjadi lebih cerdas dalam memilih pemimpin.

Memilih pemimpin = Memilih pasangan

Sederhana kan? :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.